SI-TI UKDW

Menggeluti teknologi informasi membuat kita makin menyadari betapa informasi mampu membuat perubahan, perbaikan, dan pemberdayaan bagi banyak orang. Teknologi Informasi yang tak pernah mundur menjadi semangat bagi kita untuk tidak cepat puas tanpa lupa menghargai pencapaian yang ada. Kalau jalannya tersendat, bukan berarti tidak maju. Informasi-informasi yang disajikan di sini mungkin memberi jawab kenapa jalan tersendat itu tak kunjung lancar.

12 April 2009

Sumber Dokumentasi Ilmiah

Romi Satria Wahono telah berusaha mengumpulkan daftar situs-situs yang menyediakan informasi tentang dokumentasi ilmiah, atau yang sering dikenal dengan jurnal ilmiah (bahasa gaulnya paper atau transactions).

Keberadaan situs-situs tersebut memang jarang sekali terdengar di telinga mahasiswa, namun hal tersebut tampaknya sudah harus mulai dibiasakan karena salah satu cara untuk mempelajari ilmu yang sangat cepat berkembang (konon kabarnya setiap 6 menit tercipta satu teknologi baru) adalah dengan sering-sering membaca jurnal.

Setelah mengetahui adanya situs-situs tersebut, maka masalah lain yang muncul adalah masalah biaya. Sebagian dari situs-situs tersebut memang tidak gratis alias mengharuskan Anda untuk membayar biaya keanggotaannya. Bagi Anda yang masih berstatus mahasiswa, maka Anda mendapatkan kesempatan yang cukup besar untuk mendaftarkan diri dan mengambil paket mahasiswa yang harganya masih masuk akal.

Sebagai contoh, untuk ACM, harga untuk students ditawarkan sekitar USD 18. Dengan kurs 1 USD = 11300 (asumsi kasar), maka biaya yang harus dikeluarkan selama satu tahun hanyalah IDR 203.400. Jika nilai ini kita bagi dengan dua belas bulan, maka setiap bulan Anda cukup mengeluarkan IDR 16.950. Jauh lebih besar dari pengeluaran kita untuk makan atau beli rokok atau beli bensin selama satu bulan. Jika masih terasa berat, maka Anda bisa patungan untuk membeli keanggotaannya. Syaratnya cuma sederhana, Anda punya kartu kredit untuk pembayarannya. Tidak mutlak memang, tapi Anda akan lebih repot jika harus kirim uang lewat kantor pos misalnya.

ACM sendiri memiliki koleksi paper yang sangat banyak yang dapat diakses pada situs Digital Librarynya. Bagi anggota yang terdaftar dan sudah memiliki hak keanggotaan ACM (termasuk students), maka Anda bisa mendapatkan akses ke semua isi yang ada di Digital Library milik ACM tanpa ada batas (tidak seperti IEEE yang hanya terbatas 25 paper untuk setiap bulan. Itupun masih harus dengan biaya bulanan).

Fitur lain yang cukup menarik dari layanan ACM adalah akses ke Books24x7, layanan buku online dimana Anda bisa membaca banyak sekali buku-buku komputer secara gratis (saat ini sudah ada lebih dari 500 buku yang bisa diakses termasuk course). Selain itu juga Anda bisa mendapatkan email address @ACM.org dan juga majalah Communications dan CrossRoads yang sangat terkenal dan bagus isinya.

Untuk harga yang tidak terlalu mahal, ACM menawarkan banyak sekali tawaran-tawaran menarik yang mungkin bisa berguna bagi Anda yang mencari ilmu serta sumber paper ilmiah.

28 March 2009

Pemrograman Merupakan Mimpi Buruk?

Betapa terkejutnya saya setelah mendengar fakta bahwa banyak mahasiswa yang masuk di program studi Teknik Informatika tetapi nyatanya mereka takut dengan apa yang disebut pemrograman surprise?

Pada awalnya saya sendiri kurang percaya, namun setelah melihat bukti nyata yang ada di lapangan dan juga mendengar sendiri pengakuan dari beberapa mahasiswa yang saya kenal, saya jadi mulai sedikit demi sedikit percaya dengan fakta yang sebetulnya sangat menyedihkan.

Salah satu alasan saya dahulu masuk di program studi Teknik Informatika adalah karena saya hendak mempelajari tentang bagaimana mendayagunakan komputer dalam kebutuhan kita sehari-hari. Tentunya kita membutuhkan program tertentu. Setelah memahami cara menggunakan sebuah program, tentunya kita juga tertantang bagaimana kita bisa membuat program yang bisa melakukan hal yang sama (atau bahkan lebih) dengan cara kita sendiri? Disinilah kita mulai mempelajari dasar-dasar pemrograman seperti Algoritma dan Pemrograman dan Struktur Data, dan Basis Data sampai ke level berikutnya seperti Pemrograman Berbasis Obyek, Basis Data Lanjut, Teknik Kompiler, dan sebagainya.

Dengan segala keterbatasan yang ada pada waktu saya kuliah, saya mencoba untuk mempelajari hal-hal baru yang bisa saya dapatkan dari media lain, misalnya buku atau Internet. Tidak heran jika saya sering keluar masuk perpustakaan karena harus meminjam buku atau ke warnet demi mendapatkan ilmu yang saya cari.

Di era digital seperti sekarang ini, dengan maraknya penggunaan laptop dan WiFI, serta E-Book yang mudah untuk dicari dan juga buku yang lebih lengkap, justru penurunan akan minat terhadap pemrograman yang didapatkan. Cukup aneh bukan? Fasilitas semakin lengkap, cepat, dan murah, tetapi justru hasil yang didapatkan malah semakin rendah dan semakin ditinggalkan.

Apakah memang pemrograman adalah mimpi buruk bagi seorang mahasiswa yang sudah memilih untuk masuk di program studi Teknik Informatika / Sistem Informasi?

23 February 2009

Penyalahgunaan Kemudahan

Saat ini program Properskrip sudah mulai disosialisasikan oleh beberapa dosen di fakultas teknik, utamanya dari program studi Teknik Informatika (karena memang awalnya dimulai dari prodi ini). Bagi yang belum memahami konsep properskip, maka bisa membaca sekilas tentang program ini pada blog yang sudah dibuat oleh Pak Sri Suwarno, koordinator TGA yang mulai bertugas sejak semester genap tahun akademik 2008/2009 ini menggantikan Ibu Lucia DK.

Program ini pada dasarnya bertujuan untuk membantu mahasiswa yang sedang mencari judul untuk topik penelitiannya atau mahasiswa yang hendak menyelesaikan skripsinya tepat waktu (diharapkan 1 semester) dengan menyediakan beberapa langkah-langkah tambahan, misalnya proses penyederhanaan kolokium yang selama ini menjadi momok utama bagi mahasiswa yang sudah memasuki tahun ketiga atau keempat (artinya sudah sering ditanya "Kapan Kamu Lulus?" atau "Kapan Kamu Married?" big grin)

Menurut informasi yang ditulis pada blog program ini, langkah-langkah nyata tersebut adalah:
  • Penawaran judul skripsi oleh para dosen sesuai dengan bidang minat masing-masing.
  • Penyederhanaan proses kolokium:
    • Mahasiswa konsultasi dengan dosen yang menawarkan judul skripsi untuk “kolokium pribadi”.
    • Apabila dosen menyetujui seorang mahasiswa mengambil judul yang ditawarkannya, maka mahasiswa tersebut membuat proposal dari judul tersebut dan ditandatangani dosen yang bersangkutan.
    • Proposal yang sudah ditandatangi dosen didaftarkan kepada sekretariat Prodi untuk kolokium.
    • Kolokium diadakan setiap akhir bulan.
    • Proposal yang sudah disetujui dosen, apabila judul tersebut belum pernah ada, pasti diterima sebagai judul skripsi.
Langkah ini sangatlah baik untuk membantu mahasiswa, namun sejauh ini yang saya amati (dan saya rasakan sendiri) adalah kecenderungan mahasiswa untuk memilih cara mudahnya, yaitu dengan memilih opsi yang pertama : "menunggu dan meminta judul skripsi dari dosen". Saya sendiri cukup heran dengan fenomena yang terjadi, karena topik penelitian dari sang dosen belum tentu akan sesuai dengan apa yang diminati oleh sang mahasiswa itu sendiri. Judul yang seharusnya bisa menarik akan menjadi kurang menarik karena sang mahasiswa tidak menangkap apa yang diinginkan oleh sang dosen. Dosen pun kadang kerepotan dalam menjelaskan idenya kepada mahasiswa, karena sama sekali "blank" terhadap topik tersebut doh

Kasus lain lagi adalah pengambilan topik skripsi yang bukan bidangnya. Sebagai contoh, mahasiswa yang belum pernah mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan kecerdasan buatan hendak mengambil penelitian tentang kecerdasan buatan, hanya gara-gara melihat temannya dengan mudahnya mendapatkan judul yang berkaitan dengan topik kecerdasan buatan. Ini tentunya sudah melenceng dari tujuan program ini dibentuk. Masih banyak contoh kasus lain yang sudah dan pasti akan terjadi lagi di masa mendatang.
waiting

Perlu diingat bahwa program ini dibentuk untuk membantu mahasiswa, bukan sebagai jalan pintas bagi mahasiwa untuk mendapatkan judul seadanya. Skripsi bisa dikatakan sebagai salah satu ujian terakhir sebelum Anda dinyatakan layak untuk menyandang gelar Sarjana Komputer, bukan sebagai Sarjana Komplit
laughing.

Maka dari itu, anggaplah skripsi sebagai sebuah proses untuk menuju sebuah kedewasaan, dimana Anda mulai berpikir bagaimana mengaplikasikan semua teori-teori yang Anda dapatkan selama kuliah dalam sebuah topik penelitian yang Anda minati. Tentunya bukan sekedar asal penelitian "ecek-ecek", tetapi juga penelitian yang berkualitas.

Penelitian Anda bisa membawa nama Anda dan juga almamater Anda pada berbagai acara besar, terutama seminar yang kerapkali diadakan oleh berbagai organisasi maupun kampus. Tunjukan kepada dunia bahwa Anda mampu membuat topik penelitian yang menarik dan berkualitas peace sign

19 January 2009

Cermati Pedoman Kurikulum

Kurikulum pendidikan dibuat sebagai panduan dalam melakukan proses belajar mengajar dengan harapan akan adanya kesamaan dari pihak-pihak yang mengimplementasikan kurikulum yang serupa. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kurikulum pun akan out-of-date dan harus diperbarui.

Perubahan kurikulum pasti memiliki menimbulkan efek samping, baik yang positif maupun negatif, karena yang namanya perubahan pasti ada akibatnya. Bagi mahasiswa angkatan baru, tentunya hal ini menjadi hal yang positif, karena mereka mendapatkan kurikulum yang lebih baik dibandingkan dengan kakak kelas mereka. Sebaliknya, bagi mahasiswa lama, hal ini *bisa* menjadi dampak negatif, karena ada beberapa matakuliah yang mengalami pergeseran (semester X <-> semester Y), perubahan status (wajib <-> tidak wajib) serta penambahan/penghapusan matakuliah. Semua ini bertujuan BUKAN untuk mempersulit mahasiswa untuk lulus, melainkan demi mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik di lingkungan kampus UKDW, terutama di program studi Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Hal ini perlu dilakukan, mengingat pada kedua program studi ini, terdapat dinamika ilmu pengetahuan yang sangat cepat, sehingga adaptasi pun harus dilakukan agar materi-materi yang diajarkan tidak ketinggalan dengan apa yang ada di luar sana.

Dalam penentuan kurikulum baru, para pengambil keputusan berusaha keras untuk mengakomodasi perubahan pada semua mahasiswa, namun memang tidak mudah untuk bisa mendapatkan hasil yang sempurna. Oleh karena itu seringkali dibuat beberapa perkecualian untuk mahasiswa angkatan tertentu. Hasil dari keputusan tersebut selalu disebutkan dalam buku panduan akademik maupun media informasi lain, misalnya dalam bentuk pengumuman atau sosialisasi sebelum masa registrasi dimulai.

Sayangnya, tidak semua mahasiswa menyadari akan keberadaan buku panduan baru dan masih menggunakan versi lama dalam penyusunan jadwal matakuliah yang akan diambil pada semester selanjutnya. Tentunya hal ini bisa berakibat fatal, karena ada beberapa matakuliah yang seharusnya dia ambil, tetapi karena matakuliah tersebut bukan matakuliah wajib, maka dia tidak mengambilnya pada semester ini dengan resiko harus menunggu semester berikutnya atau bahkan tahun berikutnya dan bersaing dengan adik kelasnya.

Untuk mengatasi hal-hal semacam itu, tidak ada cara lain selain rajin-rajin mengikuti perkembangan di kampus dengan melihat papan pengumuman dan juga berkonsultasi dengan dosen wali maupun ketua program studi.

Semoga mereka yang mengalami hal-hal diatas menjadikan hal ini sebagai pelajaran bagi semester yang akan mendatang.

19 December 2008

Kesalahan Kecil Berakibat Fatal

Pada umumnya, setiap dosen pasti memberikan tugas tambahan bagi para mahasiswanya. Tugas ini diharapkan untuk membantu mahasiswa untuk memahami materi yang dijelaskan disetiap perkuliahan, jadi tidak hanya teori saja, tetapi ada prakteknya secara langsung. Selain itu, tugas sebetulnya juga bisa digunakan untuk membantu mengurangi beban mahasiswa saat ujian, baik ujian tengah maupun ujian akhir. Jangan sampai keberhasilan seorang mahasiswa/i hanya ditentukan oleh ujian saja. Bagaimana kalau ternyata pada saat ujian kondisi mahasiswa/i tadi tidak fit sehingga tidak bisa berkonsentrasi menyelesaikan soal-soal yang diberikan, padahal seharusnya dia mampu? Tentu tidak adil jadinya..

Terkadang beberapa dosen (contohnya saya sendiri) memilih untuk memberikan sedikit "modifikasi" terhadap tugas yang diberikan, misalnya tata cara pengiriman tugas, entah via email atau harus mengupload pada suatu situs tertentu, penamaan tugas, dan lain sebagainya. Hal ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan mahasiswa, akan tetapi untuk melatih kepekaan mahasiswa terhadap aturan yang ditetapkan pada sebuah lingkungan (dalam hal ini lingkungan belajar mengajar di sebuah perguruan tinggi).

Kita hidup di suatu ruang lingkup yang terdiri atas banyak sekali aturan yang harus dipenuhi. Terkadang kita sendiri melanggar sebagian dari aturan-aturan tersebut karena bagi kita itu sudah hal biasa. Akan tetapi akan lebih baik jadinya apabila kita mencoba untuk lebih peka terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan tadi.

Kembali ke masalah tugas. Meskipun tata cara pengumpulan tugas yang saya gunakan sudah saya jelaskan di pertemuan awal (dan juga di beberapa pertemuan selanjutnya), sudah saya tuliskan di silabus, dan kadang kala saya sampaikan langsung ke mahasiswa yang kebetulan sedang berbincang-bincang langsung, akan tetapi ternyata masih banyak juga mahasiswa yang tidak membaca aturan yang ditetapkan. Hasilnya? Nilainya tidak ada dan ujung-ujungnya pada protes ke dosen: "Kenapa Nilai Saya 0?"

Untuk kasus ini, biasanya saya ambil tindakan tegas, yaitu tidak ada toleransi terhadap kesalahan-kesalahan semacam itu. Kenapa? Karena menurut saya itu bukan sesuatu yang susah untuk dikerjakan. Saya ambil contoh untuk matakuliah yang saya pegang selama semester Gasal 2008/2009 ini. Untuk semua tugas, saya sudah menentukan SUBJECT email yang harus digunakan agar tugas bisa saya proses pada inbox saya. Seberapa susahnya menuliskan SUBJECT yang benar? Anda cukup membaca di silabus, dan menerapkannya pada pesan email yang berisi tugas. Simple bukan? Nyatanya bisa dikatakan ada cukup banyak yang salah dan hasilnya nilai mereka (karena tugas kelompok) tidak ada.

Mungkin sebaiknya mulai semester depan, tolong diperhatikan lagi tentang masalah-masalah kecil seperti ini, karena kesalahan kecil seperti itu bisa menjadi fatal apabila dilanggar

31 October 2008

Memanfaatkan Kuliah Gratis

Saat ini proses kuliah atau belajar mengajar tidak lagi hanya bisa dilakukan di kelas atau ruangan yang bersifat fisik saja, melainkan sudah bisa dilakukan secara online melalui jaringan Internet. Bahkan kita juga bisa berinteraksi dengan rekan-rekan kita yang berada di belahan dunia yang lain. Hal ini dimungkinkan dengan adanya kolaborasi dari berbagai perguruan tinggi yang ada yang bersedia membuka dirinya kepada publik dan menyediakan bahan-bahan pengajaran secara gratis di halaman webnya.

Dengan memanfaatkan resources yang tersedia secara gratis ini, maka mahasiswa diharapkan bisa mengembangkan dirinya lebih jauh lagi dan tidak lagi terbatas pada materi yang disampaikan oleh pengajar di depan kelas. Hal ini tidak lepas dari perkembangan dari teknologi itu sendiri yang berkembang dengan sangat cepat serta keterbatasan waktu yang dihadapi ketika harus menyampaikan materi di depan kelas.

Beberapa sumber yang sudah menyediakan materi-materi kuliah secara gratis:
- MIT
- Stanford
- Aptikom
- University of Texas
- Utah State University
- Yale University
- Fulbright Schools
- ParisTech

Semoga dengan adanya proses belajar yang mandiri dari mahasiswa, maka diharapkan mahasiswa bisa berkembang secara mandiri untuk menempuh masa depan yang lebih cerah.

Selamat berdjoeang big grin

08 August 2008

Informasi Kurikulum 2008 (T. Informatika)

Berdasarkan hasil rapat kerja kurikulum program studi yang dilakukan pada tanggal 23-24 Juni di ruang VICON (Visual Conference) Gedung Agape Lt.4 UKDW, telah diputuskan beberapa hal dan salah satunya adalah perubahan kurikulum yang mulai berlaku pada semester gasal tahun akademik 2008/2009. Informasi kurikulum baru bisa dilihat pada papan pengumuman di fakultas teknik.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan adanya perubahan kurikulum untuk mahasiswa lama yang mungkin akan terkena imbasnya.
  1. Mulai semester Gasal 2008/2009, sesuai dengan keputusan pemerintah maka ada perubahan matakuliah wajib Humaniora sebagai berikut:

    • Pendidikan Kewarganegaraan 3 SKS
    • Bahasa Indonesia 3 SKS
    • Pendidikan Agama Kristen 3 SKS
    • Ilmu Sosial dan Budaya Dasar 3 SKS

    Untuk itu, bagi mahasiswa angkatan 2007 dan sebelumnya berlaku penyesuaian sebagai berikut :
    • Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama Kristen jumlah kredit disesuaikan menjadi 3 SKS.
    • Matakuliah HAM dan Demokrasi, Apresiasi Seni, Apresiasi Seni Musik, Pancasila, dan Etika Kristen, dianggap sebagai matakuliah pilihan bebas
    • Bahasa Indonesia dan ISBD tidak diwajibkan, tetapi mahasiswa disarankan untuk mengambil.

  2. Kerja Praktek dapat diambil mulai semester VII (jumlah kredit minimal 117 SKS). Tugas Akhir tetap diambil untuk semester VIII
  3. Pemodelan Sistem Perangkat Lunak dan Keamanan Komputer, menjadi matakuliah wajib bagi angkatan 2008 dan berikutnya
  4. Pengambilan bidang minat (angkatan 2004 dan berikutnya) , minimal mengikuti 4 matakuliah (12 SKS) dari matakuliah pilihan wajib konsentrasi (kurikulum 2008) yang ditawarkan. Mahasiswa angkatan 2003 dan sebelumnya, masih diijinkan mengambil bidang minat “gado-gado”, syarat lulus adalah menempuh semua matakuliah wajib dan jumlah kredit minimal 144 SKS.

DAFTAR MATAKULIAH WAJIB KONSENTRASI
Sistem Komputer Cerdas
  • Pengolahan Citra Digital
  • Jaringan Syaraf Tiruan
  • Sistem Berbasis Pengetahuan
  • Pemrog. Kecerdasan Buatan
  • Logika Fuzzy
  • Sistem Pakar
Komunikasi & Jaringan
  • Router & Routing Dasar
  • Sistem Terdistribusi
  • Administrasi Jaringan
  • Jaringan Nirkabel
  • Bridging Switching
  • Teknologi WAN
Rekayasa Perangkat Lunak
  • Rekayasa Web
  • Arsitektur & Manajemen TI
  • Pemrog.Berbasis Komponen
  • Arsitektur. Aplikasi. Sistem Enterprise
  • Rekayasa Aplikasi Internet
  • Evolusi Proses PL.

27 April 2008

Manfaatkan Segala Kesempatan yang Ada

Menyambung tulisan sebelumnya, kali ini tips yang bisa diberikan adalah "Memanfaatkan Segala Kesempatan yang Ada". Kenapa? Karena kesempatan TIDAK datang berkali-kali (2x saja jarang, apalagi berkali-kali laughing)

Salah satu contoh nyata adalah saat pelaksaanan pengujian judul skripsi yang diajukan (kolokium). Mahasiswa diberikan kesempatan 3x untuk maju dan mempertahankan judul skripsi yang diajukan, akan tetapi banyak kasus dimana mahasiswa hanya maju pada kesempatan terakhir. Tentunya ini membuang 2x kesempatan untuk lolos pada pengujian tersebut.

Banyak alasan yang sering diungkapkan, misalnya
  • Belum ada judul
  • Belum siap
  • Sedang sibuk mengerjakan yang lain
Untuk bisa diterima saat proses kolokium diperlukan sebuah proses (dan juga usaha), bukan sesuatu yang terjadi secara seketika. Mungkin dengan membaca tulisan ini, Anda akan lebih memahaminya.

Jadi.... jika memang Anda diberikan kesempatan yang cukup luas, pergunakan setiap kesempatan yang ada, karena belum tentu kesempatan akan datang lagi pada Anda

Jangan Tunda Pekerjaan

Salah satu kebiasaan yang seringkali dilakukan adalah menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang seharusnya bisa kita selesaikan di awal menjadi bertumpuk-tumpuk ketika menjelang batas akhir pengumpulan, tanpa kita sadari.

Hasilnya... pekerjaan dibuat dengan tergesa-gesa dan meskipun sudah sampai berkorban tidak tidur beberapa malam sekalipun yawn, hasilnya tidak akan terlihat maksimal dan bingung sendiri at wits end

Salah satu alasan mengapa seringkali tugas diberikan di awal semester dan dipresentasikan di akhir semester adalah memberikan kesempatan untuk segera memulai penyelesaian tugas tersebut. Harapannya adalah mahasiswa mampu mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lain sehingga beban yang harus dipikul selama satu semester tidaklah terlalu berat.

Tetapi apa daya.... meskipun kadang sudah mengingatkan berulang kali sekalipun (sampai berbusa-busa), seringkali peringatan ini hanya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan whistling

Pepatah "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian" tampaknya sudah lambat laun berganti menjadi "bersenang-senang dahulu, bekerja begadang kemudian".

So... cobalah untuk mengatur waktu dalam kehidupan kita semua dan biarkan tubuh kita mendapatkan istirahat yang cukup sleepy

01 March 2008

Buku Itu Out of Date

Woaa..... surprise
Apa maksud judul diatas?

Sabar....
Judul diatas memang terlihat "aneh" untuk sebagian besar dari kita, tapi itulah kata-kata yang diucapkan oleh Dr. CHOONG Yeow Wei dalam acara Seminar Business Intelligence yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana dalam rangka salah satu bagian acara dari program kerjasama dengan universitas HELP di Malaysia dengan puncaknya adalah peresmian program Dual Degree Internasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 1 Maret 2008.

Mari kita lihat kenapa dia mengatakan seperti itu. Pada sesi terakhir, yaitu penjelasan tentang masa depan Business Intelligence, terdapat seorang peserta seminar yang melontarkan pertanyaan "Dimana saya bisa mendapatkan informasi terbaru dari Business Intelligence, karena selama ini saya belajar cuma dari buku?" (kira-kira seperti itu, tolong dibetulkan kalo ada kesalahan). Lalu Dr. CHOONG Yeow Wei menjawab dengan sederhana : "We don't read books". Jawaban sederhana itu cukup membuat shock sebagian dari para peserta surprise. Lalu dia mengatakan bahwa buku itu sangat cepat out of date (ketinggalan), karena perkembangan teknologi yang sangat cepat dan biasanya masa hidup sebuah buku tidak lebih dari 1 tahun (karena akan ada teknologi penggantinya).

Lalu... kalo bukan dari buku, dari sumber apa donk?

Jawabannya adalah dari paper/jurnal yang sudah dipublikasikan. Beliau mengatakan demikian karena hampir setiap hari diselenggarakan acara seminar atau workshop yang mencoba menghadirkan ide-ide baru dari para peneliti maupun dari lembaga pendidikan. Ide-ide baru ini biasanya satu langkah lebih maju dari teknologi atau topik yang sudah ada secara umum, karena para peneliti mencoba menggali lebih jauh lagi tentang sebuah teknologi umum (oleh sebab itu disebut dengan penelitian dan hasilnya dipublikasikan untuk di-share ke publik).

Belajar dari jurnal/paper/makalah internasional memang belum merupakan kebiasaan umum dari sebagian besar kita karena mungkin ada beberapa kendala:
  • Masalah bahasa (rata-rata menggunakan bahasa Inggris)
  • Masalah biaya (sebagian besar paper yang dipublikasikan hanya bisa di-download oleh anggota, misalnya ACM, IEEE)
  • Masalah kebiasaan / budaya membaca yang masih terbilang rendah (orang lebih suka mendengarkan daripada membaca. Istilah lainnya adalah pasif dan bukan aktif)
  • Tidak terbiasa dengan paper/makalah/jurnal (ini harus dibudidayakan sejak dini)
Lebih lanjut, Dr. CHOONG Yeow Wei juga mengatakan bahwa buku merupakan media yang cocok untuk pembelajaran pada tahap awal, karena bisa menyediakan dasar untuk memahami konsep dasar dari sebuah ilmu, akan tetapi buku tidak bisa digunakan sebagai referensi terus menerus, karena buku bersifat statis. Untuk bisa mendapatkan ilmu yang baru, kita harus dituntut untuk lebih dari sekedar membaca buku teks saja, namun juga mulai membiasakan diri dengan mengakses jurnal-jurnal internasional.

Solusi yang mungkin bisa diterapkan dalam mengatasi masalah-masalah diatas:
  • Mulailah serius mempelajari bahasa Inggris. Tidak diragukan lagi bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang bersifat universal. Hampir sebagian besar acara/dokumen/paper/jurnal akan diselenggarakan/ditulis dalam bahasa Inggris, sehingga pemahaman akan bahasa Inggris akan sangat membantu sekali.
  • Seringkali kampus mencoba menyediakan akses ke jurnal-jurnal tersebut (sekalipun harus membayar sejumlah uang yang cukup besar). Cobalah hubungi tempat Anda belajar dan tanyakan apakah Anda bisa mendapatkan akses ke situs-situs jurnal/publikasi internasional. Solusi hemat: Gunakan Google Scholar
  • Ini tidak ada solusinya, kecuali mulai dari diri Anda sendiri. Cobalah untuk aktif menggali ilmu dengan rajin-rajin membaca paper/jurnal yang ada di Internet. Membaca adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan, karena Anda bisa mendapatkan banyak ilmu baru hanya dengan menyempatkan waktu 1-2 jam untuk membaca (tentunya bukan membaca komik big grin)
  • Masalah ini bisa dipecahkan dengan mencoba memperkenalkan adanya tugas-tugas yang mengharuskan mahasiswa untuk mencari jurnal-jurnal yang berhubungan dengan mata kuliah yang diampunya. Tidak ada salahnya, karena suatu saat mahasiswa tersebut juga harus membuatnya sebagai salah satu syarat kelulusan (skripsi/tesis/desertasi)
Sudah berapa paperkah yang Anda baca bulan ini? bring it on